Angkat Seni Budaya Ludruk, BI Jatim Bersama Komunitas Kesenian Surabaya Gelar Ludruk Bertajuk ” Pahlawan Rupiah “

 

Surabaya : ( KABARAKTUALITA.COM ) Sebagai upaya untuk mengangkat kembali Kesenian budaya Ludruk Jawa Timur . Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Komunitas Irama Budaya Sinar Nusantara menggelar Budaya seni Ludruk.

Pagelaran seni Budaya Ludruk yang digelar bertepatan dengan memperingati Hari Pahlawan tersebut bertajuk ” Pahlawan Rupiah ” berlangsung di Gedung museum Bank Indonesia De Javasche Bank Surabaya dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim, Difi Ahmad Johansyah, Anggota komisi XI DPR RI, Indah Kurnia dan kalangan Perbankan serta komunitas penikmat Ludruk Surabaya.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim, Difi Ahmad Johansyah mengatakan, Momen Hari Pahlawan menjadi momen yang sangat pas untuk mengangkat kembali seni budaya Jawa Timur dan dipilihnya gedung yang memiliki sejarah ini menjadi pertunjukan yang bisa mengangkat kembali seni ludruk.

” Bank Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata, termasuk juga dengan mengangkat kembali seni budaya lokal seperti ludruk,” kata Difi saat hadir pada pagelaran seni ludruk di Gedung De Javasche Bank Surabaya.Jumat ( 9/11/2018 )

” Serta gedung de javasche bank surabaya yang telah berdiri sejak tahun 1829 pun semakin menambah nuansa heroik dalam pertunjukan ludruk ini,” imbuhnya

Difi berharap, dengan pagelaran seni ludruk yang bertajuk Pahlawan Rupiah ini bisa menggairahkan seni budaya Ludruk di Jawa Timur dan masyarakat lebih mensuport ludruk disetiap penampilan.

” Kami berharap kedepannya masyarakat semakin banyak mencintai dan mendukung ludruk sehingga mampu mendorong perekonomian Jawa Timur,” terang Difi

Difi menjelaskan, pertunjukan ludruk berdurasi 1,5 jam ini mengangkat cerita tentang kehidupan masyarakat dengan berbagai dilema mereka terkait Rupiah. Alkisah terdapat Mak Iya yang dengan kesederhanaannya mampu menghidupi banyak orang dengan gethuknya, juga ada Baba Ahong yang tak mau menyimpan uangnya di luar negeri karena kecintaannya pada bangsa dan negara. Berbeda lagi dengan Mukidi yang selalu bingung dengan Rupiah yang dimilikinya dan selalu tak sabar untuk cepat-cepat menukarnya dengan US Dollar. Tokoh Mak Iya, Baba Ahong dan Mukidi ini pun menghadapi dilemanya mana kala bangsa dan negaranya membutuhkan pengorbanan mereka.

” Di tengah gejolak nilai tukar, kami mengapresiasi pertunjukan ludruk seperti ini yang kami harapkan mampu memberikan pemahaman dan membangkitkan kesadaran serta kecintaan masyarakat terhadap Rupiah. Mari menjadi berdaulat di negeri sendiri dengan mencintai Rupiah,”  pungkasnya.     ( Dji  ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*