Ratusan Warga Rela Antre Sembako di Lumbung Pangan Jatim,Meski Ditengah Wabah Pandemi COVID – 19.

 

SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Sebagai upaya untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh bahan pangan atau sembako dalam mengatasi Pandemi COVID -19 Pemerintah Provinsi Jatim menyediahkan Lumbung Pangan yang digelar di Gedung JX International Jalan Ahmad Yani Surabaya.  Anehnya pada penyediaan sembako Lumbung Pangan  ini terjadi saling serobot dan berjubel,sehingga ratusan warga yang sudah mengantre sejak pukul 8 pagi saling berdesakan.Tidak hanya dari orang dewasa yang nampak mengantre namun anak kecil juga ikut berkerumun di pasar Lumbung Pangan  tersebut.

Hal ini seperti yang dikatakan salah satu warga Banyu Urip Lor, Surabaya, Riwayati (48), ia mengaku khawatir saat mengantre untuk membeli sembako di JX International. Pasalnya, jaga jarak (Social Distancing) yang diterapkan oleh Pemerintah dilanggar oleh masyarakat sendiri.

“ Tadi sempet ikut antre. Tapi setelah banyak orang saya rela mengantre dibelakang sendiri, bahkan menjauhi dari kerumunan ,” katanya.

Informasi yang didapat Riwayati dari pesan berantai dari keluarga dan tetangga di rumah. Sampai pukul 10.00 Wib, belum terlihat tanda-tanda dibukanya pintu masuk.

Ketika salah satu panitia Lumbung Pangan Jatim menggunakan pengeras suara, akhirnya pintu dibuka. Ratusan warga pun langsung berebut menjadi urutan pertama. Saling tuding antar warga terjadi.

” Itu kok main serobot. Antre dong,” teriak salah satu warga.

Sementara, kebijakan Pemprov Jatim yang menjual beberapa kebutuhan pokok masyarakat dengan nama lumbung pangan di Jatim Expo (JX) dengan dalil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan disaat wabah pandemi virus corona (covid- 19) mendapat kritikan DPRD Jatim.

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Anwar Sadad menilai justru kegiatan ini akan mematikan pedagang kecil (klontongan) di perkampungan perkotaan, yang saat ini mengalami kesulitan saat pandemi covid saat ini.

“Kalau lumbung pangan itu dijual kepada end user, kan pemprov masa sih tega menjadi saingannya pedagang kelontong di kampung-kampung,” katanya, Selasa (21/4).

Sadad justru meminta agar lumbung pangan yang dilakukan BUMD itu tidak menjual langsung, tapi menggandeng pedagang kecil, dalam mendistribusikan bahan makanan selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya, Gresik dan Lamongan.

“Kalau lumbung pangan menjual aenduri apalagi di satu titik saja sama dengan pemprov buat toko penjualan baru dan bersaing dengan toko klontongan masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, selama ini dia belum melihat kebijakan Pemprov Jatim di sektor ekonomi saat persiapan pelaksanaan PSBB.

“Ini kan akan diterapkan PSBB. Tetapi kebijakan sektor ekonomi masih belum terlihat,” tambahnya.

Sekretaris DPD Gerindra Jatim itu juga mengatakan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya harus segera berkoordinasi untuk meminimalisir dampak ekonomi yang timbul bagi kelas menengah kebawah, ketika nanti PSBB diterapkan.

Berbagai macam bantuan harus dipetakan dengan detail, agar nantinya tidak tumpang tindih dan sebarannya bisa merata, menjangkau masyarakat yang kurang mampu.

“PSBB itu Pemkot dan Pemkab kan, bukan semata Pemprov. Bantuan untuk masyarakat ini pos nya dari Pusat, Prov, dan kab/kota. Bagaimana overlaynya? yang dicover provinsi siapa? Kalo ga jelas, bisa tumpang-tindih, ada PKH, ada BPNT, ada dari pemprov, ada pula kab/kota sebagai konsekuensi PSBB,” pungkasnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, telah membuka Lumbung Pangan Jatim yang berada di Jatim Expo. Ini disediakan untuk warga terdampak pandemi Covid-19.

“Masyarakat bisa membeli keperluan rumah tangga seperti beras, gula, minyak goreng, telur ayam, frozen food, minuman, mi instan, bawang putih, dan produk lainnya. Ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan logistik masyarakat dan lokasinya pun mudah diakses,” jelasnya.

Khofifah mengatakan stok beras saat ini sekitar 3,3 juta ton. Menurutnya ketersediaan beras masih mencukupi hingga Juni.

“Estimasi luas lahan penghasil panen beras di Jatim mencapai 433 ribu hektare, sehingga Bulog Jatim menyampaikan ketersediaan beras tercukupi,” katanya saat itu.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Panca Wira Usaha Jawa Timur Erlangga Satriagung memastikan berbagai barang kebutuhan pokok yang tersedia di Lumbung Pangan Jatim harganya di bawah harga pasar.

“Ada beberapa jenis komoditas yang sudah kami siapkan, seperti beras medium dan premium. Harganya beda sekitar Rp500 perkilogram dari harga pasar,” ujarnya

Begitu juga untuk komoditas minyak goreng, Lumbung Pangan Jatim telah menyediakan beberapa merek dengan perbedaan harga sekitar Rp500 hingga Rp700 dari harga pasar.

Selain itu, telur ayam dijual dengan perbedaan harga sekitar Rp3.000 dari harga pasar. Menurut pimpinan holding company dari Wira Jatim Group, yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu, komoditas yang dijual paling murah adalah gula, dengan perbandingan harga mencapai Rp6.000 dari harga pasar.

“Untuk pembelian komoditas gula akan kita batasi, yaitu setiap orang hanya diperbolehkan membeli paling banyak 2 kilogram,”  pungkasnya.  ( * Dji )