Langgar Gipo Dikawasan Kalimas Udik Surabaya,Situs Bangunan Bersejarah Ratusan Tahun.

 

SURABAYA  : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Belum banyak yang tahu kalau di kawasan jalan Kalimas Udik, Surabaya, Jawa Timur terdapat sebuah Langgar bersejarah. Langgar tersebut di namai Langgar Gipo. Conon Bangunan yang masih terlihat ornamen kuno ini dibangun keluarga Sagipoddin pada sekitar tahun 1700-an dan sudah dilakukan sebanyak 5 kali renovasi.

Berdasarkan cerita Moch. Yunus keluarga Hasan Gipo turunan ke-7 dari mbah sagipodin (mbh gipo / abdul latif), Sagipoddin adalah orang kaya keturuhan Arab. Ia tinggal di kawasan kampung elit Ngampel.

“Nama sebenarnya adalah Abdul Latief. Kenapa berubah jadi Sagipoddin? Karena lebih lekat dengan lidah orang Jawa. Kemudian, nama itu dipendekkan lagi menjadi Gipo” lanjutnya.

“Gipo menjadi tanda nama keluarga, semacam marga. Abdul Latief yang menggagasnya. Keluarga ini juga masih keluarga dengan keluarga Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah di Surabaya” kata Yunus saat di jumpai di Asrama haji pertama (Langgar Gipo) Surabaya, Jawa Timur.

Menurutnya, Gipo melahirkan keturunan bernama Hasan Gipo. Generasi keempat yang menjadi Ketua NU pertama. Sayangnya, malah tak banyak dikenal warga NU.

Sayangnya, Hasan Gipo tak banyak ditulis dalam sejarah perjuangan bangsa. Baru setelah internet dan dunia maya menjamur, nama Hasan Gipo mulai mewarnai berita. Itu setelah NU menemukan situs makam Hasan Gipo di kompleks pemakaman Ngampel pada tahun 2015 lalu.

Langgar Gipo berdiri di atas lahan sekitar 100 meter persegi, tepatnya di Jalan Kalimas Udik. Dulu, nama jalan ini bernama Jalan Gipo. Entah apa yang diinginkan Pemerintah Kota Surabaya, yang kemudian mengganti namanya jadi Jalan Kalimas Udik.

Untuk memperbaiki situs bangunan sejarah tersebut. Sejumlah anggota Laskar Macan Ali Surabaya melakukan renovasi Langgar Gipo yang akan difungsikan sebagai langgar kembali.

David panglima Laskar Macan Ali Surabaya mengatakan, langgar tersebut dalam masa renovasi, setelah renovasi ke-6 ini langgar akan difungsikan kembali sebagai mana mestinya langgar yang telah kosong selama kurang lebihnya 35 tahun.

“Kami melakukan renovasi karena keperdulian kami terhadap bangunan bersejarah di Surabaya ini,” pungkas David ditemui pada sela-sela renovasi Langgar.  ( * PS / Dji )