“Para Petarung” Gebrakan Musikal Teater Djarum Menggema dari Panggung ke Hati

SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Teater Djarum kembali menggebrak panggung seni pertunjukan Indonesia di tahun 2025 dengan lakon terbarunya, “Para Petarung”. Karya epik dari sutradara Asa Jatmiko ini bukan sekadar pertunjukan biasa, melainkan sebuah musikal yang menyentuh hati, menceritakan kisah perjuangan kaum terpinggirkan yang tak pernah menyerah pada hidup. Kolaborasi apik dengan Laboratorium Seni Unesa menjadi pembuka tirai pentas keliling ini, yang akan menyapa penonton di Surabaya, Bandung, Surakarta, dan Kudus.
“Para Petarung” mengajak kita menyelami dunia Partiyem dan mereka yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan, kemiskinan, dan kesulitan. Asa Jatmiko dengan gamblang menggambarkan esensi lakon ini.
“Merekalah para petarung. Mereka tetap mencintai kehidupan, meski menghabiskan semua yang mereka punya.” Sebuah kalimat yang begitu kuat, merangkum semangat gigih mereka yang seringkali luput dari perhatian,” kata Asa Jatmiko, Sabtu 20 Juli 2025.
Berbeda dari produksi Teater Djarum sebelumnya seperti “Liang Langit” (2024) atau “Petuah Tampah”, “Para Petarung” tampil dalam format musikal. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor.
“Aktor menjadi pusat yang menggerakkan lakon, baik dengan dukungan artistik lengkap maupun minimalis,” kata Asa.
Menurutnya, tak hanya dituntut piawai berdialog, tetapi juga menghidupkan karakter melalui harmoni musikalitas, menciptakan pengalaman yang lebih mendalam bagi penonton.
Pentas megah ini didukung oleh total 10 aktor, 10 anggota koor, dan lebih dari 20 kru artistik. Sebuah kolaborasi masif yang menunjukkan totalitas Teater Djarum dalam menghadirkan karya berkualitas.
Teater Djarum dikenal sebagai kelompok teater internal PT Djarum, dengan seluruh anggotanya merupakan karyawan perusahaan. Namun, label “internal” tak mengurangi kualitas dan dedikasi mereka terhadap seni.
Selain produksi tahunan yang selalu dinanti, Teater Djarum juga aktif membina bakat-bakat muda melalui festival teater pelajar, menunjukkan komitmen mereka terhadap regenerasi seni pertunjukan di Indonesia.
Setelah sukses menggelar pentas perdana di Surabaya, “Para Petarung” akan melanjutkan perjalanannya ke Bandung, Surakarta, dan ditutup di kota asal mereka, Kudus. Pemilihan kota-kota ini bukan tanpa alasan.
“Kami terus berusaha menghadirkan proses baru dalam setiap pentas. Bukan hanya untuk penonton, tapi juga sebagai ruang belajar bagi seluruh anggota,” papar Asa.
Ini adalah upaya nyata untuk menjangkau penonton yang lebih luas dan menyebarkan nilai-nilai perjuangan yang diemban dalam lakon.
Antusiasme terhadap “Para Petarung” juga datang dari dunia akademisi. Doktor Muhammad Saleh, Direktur Kemahasiswaan dan Alumni Unesa Surabaya, sangat terkesima dengan penampilan Teater Djarum.
“Ya, nanti bisa kita jalin seterusnya. Saya juga terpesona penampilan awal tadi itu profesional banget ya… bagus… bagus,” pujinya.
Saleh juga menyoroti kekuatan tema yang diangkat dalam “Para Petarung” yang dianggapnya “menggigit”. Baginya, pesan moral lakon ini sangat relevan dengan hakikat hidup manusia.
“Pada hakekatnya kita yang ada di saat ini yang berdiri seperti ini itu kan karena kita pemenangnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Pesan moral yang dibangun dari tema teater Djarum ini sangat luar biasa, kalau terus dipahami terus itu juga apa kita bisa masuk ke dunia mereka itu.
“Ini menunjukkan bahwa “Para Petarung” bukan sekadar hiburan, tetapi juga ajakan untuk merefleksikan kembali semangat juang yang ada dalam setiap diri kita. “Ya karena memang sejatinya kita itu seorang petarung enggak ada kita itu ingin kalah kecuali drama karena disuruh kalah. Tapi kalau dunianya sebenarnya kita pasti menang,” ungkapnya
“Para Petarung” dari Teater Djarum bukan hanya sebuah pertunjukan musikal, melainkan sebuah ode untuk ketahanan manusia, pengingat bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada semangat juang yang tak pernah padam. (dji)




