KSSK Salah Satu Strategi Perkuat Kebijakan Perekonomian dan Stabilitas Sistem Keuangan Jatim
SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jawa Timur sebagai upaya untuk memperkuat sinergi serta koordinasi dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik yang kian meningkat.
KSSK merupakan salah satu bagian dari strategi dalam memperkuat kebijakan yang terkoordinasi serta meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi risiko perekonomian dan stabilitas sistem keuangan domestik.
Oleh karena itu, kegiatan Media Briefing yang digelar oleh para pemangku kepentingan ekonomi seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
Kehadiran pemangku kepentingan ekonomi tersebut memberikan pemaparan terhadap pilihan media dalam memperkuat serta menjaga kestabilan ekonomi di Jawa Timur.
Seperti yang disampaikan Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen, dan Layanan Managemen Strategis, Dedy Patria, stabilitas perbankan di Jawa Timur kini berada dalam kondisi yang sangat kuat.
” Stabilitas Ekonomi Jawa Timur di Tengah Ketidakpastian Global “Berbagai indikator keuangan menunjukkan peningkatan yang stabil,” kata Dedy ditemui usai acara kegiatan kegiatan Media Briefing 2024,Kamis,22 Agustus 2024 di Omah Kurasi, Surabaya.
Menurut Dedy, seperti pada rasio permodalan perbankan mencapai 29,95%,menjadi posisi sangat kuat untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi ke depan.
Tak hanya itu, kata Dedy, Non-Performing Loan (NPL) di Jawa Timur juga berhasil dikendalikan pada level 3,24%, hal ini menandakan kualitas kredit yang baik.
Selain itu,sambung Dedy, untuk rasio loan to deposit ratio (LDR) yang membaik, dari 14% pada Juni 2023 menjadi 10,57% pada tahun ini.
” Pencapaian ini menandakan adanya penurunan risiko kredit serta peningkatan efisiensi penggunaan dana. Likuiditas perbankan juga memadai, dengan Alat Likuid Bersih terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/NCD) berada di angka 93,27 persen , jauh melampaui batas minimal 50 persen,” ujarnya.
Dedy menambahkan, pada sektor perbankan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 5,30 persen, secara keseluruhan. Sektor transportasi, pergudangan, serta informasi dan komunikasi menunjukkan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 15,79%, mencerminkan kebangkitan sektor-sektor ini pasca pandemi.
“Kami optimistis bahwa tren positif ini akan terus berlanjut,” terangnya.
Dedy juga membeberkan, di sektor UMKM tetap menjadi motor penggerak utama perekonomian Jawa Timur.Menurut data terbaru,lanjutnya, penyaluran kredit UMKM mencapai 39,28 persen dari total kredit perbankan di wilayah ini.
Seperti di sektor perdagangan mendominasi penyaluran kredit UMKM dengan proporsi sebesar 37,95 persen, diikuti oleh industri pengolahan yang tumbuh sebesar 29,5 persen.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi kita,” tandasnya.
Ia menekankan terhadappentingnya penyaluran kredit yang berkelanjutan ke sektor ini, oleh karena itu, pinta Dedy, UMKM diharapkan mampu memperkuat daya saing Jawa Timur di tengah tantangan ekonomi global.
Dia menambahkan, untuk penghimpunan dana melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering atau IPO) pun telah meningkat pesat,hingga mencapai Rp.13,68 triliun,ini menandakan naik sebesar 54,47 persen.
Saat ini,imbuh Dedy, ada 24 perusahaan yang sedang dalam tahap inkubasi untuk menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Pertumbuhan ini mencerminkan ketahanan dan dinamika perusahaan di Jawa Timur, sekaligus menegaskan pentingnya pasar modal sebagai alternatif pendanaan bagi dunia usaha,” terang Dedy.
Pendanaan Alternatif: Semakin Diminati Selain pasar modal, pendanaan alternatif melalui *securities crowdfunding* (SCF) juga semakin populer di kalangan pengusaha Jawa Timur. Hingga pertengahan tahun ini,
Pasar modal melalui Securitiwws Crowd Funding ( SCF ) juga diminati,bahkan tercatat ada 8.256 investor yang berpartisipasi dalam SCF, dengan 27 entitas penerbit yang berhasil menghimpun dana sebesar Rp.37,65 miliar. Dari total dana tersebut, saham mendominasi kontribusi dengan 75,38 persen atau mencapai senilai Rp.28,38 miliar.
Terlebih kata Dedy, untuk pertumbuhan pendanaan alternatif ini terjadi berkat dukungan OJK dan kolaborasi dengan BEI.Menurutnya, berbagai inisiatif edukasi serta sosialisasi telah dilakukan untuk meningkatkan literasi pasar modal dan memudahkan akses bagi perusahaan-perusahaan lokal.
Ia pun mengungkapkan, prospek Cerah perekonomian Jatim dengan stabilitas perbankan yang semakin kuat, perkembangan pesat di sektor UMKM, serta meningkatnya minat terhadap pasar modal dan pendanaan alternatif, perekonomian Jawa Timur terus menunjukkan tren yang positif.
“Jawa Timur akan terus tumbuh sebagai salah satu pusat ekonomi paling dinamis di Indonesia,” demikian Dedy Patria. ( */dji )




