Ekbis

BI Jatim : Perlambatan Ekspor dan Kebijakan The Fed Jadi Tantangan Utama Ekonomi Jawa Timur

 

SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM )– Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, memaparkan analisis komprehensif mengenai kondisi perekonomian global, Nasional, hingga regional Jawa Timur.

Ibrahim menyoroti bahwa ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan pertumbuhan ekspor menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi.

Ibrahim mengawali dengan menyampaikan bahwa ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian besar. Risiko ini terkonfirmasi sejak awal tahun dan berlanjut hingga Oktober, terutama dipicu oleh kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan.

“Pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan dari tahun ke tahun dan belum kembali ke fase sebelum pandemi. Inilah yang harus kita cermati, karena berdampak pada potensi ekspor kita,” kata Ibrahim dalam sebuah acara Temu Media, pada Selasa, 18 November 2025.

Untuk merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah kebijakan akomodatif. Sejak September 2024, BI telah menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak enam kali menjadi 4,75 persen.

Selain itu, BI juga menurunkan Statutory Liquidity Reserve (SLBI) dengan total nominal Rp.200 triliun dan melakukan pembelian SBN untuk mendorong likuiditas.

“Transmisi kebijakan BI memang tidak langsung ke sektor riil, tetapi melalui sektor keuangan terlebih dahulu. Ini membutuhkan waktu,” ujarnya.

Menurutnya, Jatim memegang peran krusial dalam perekonomian nasional, dengan size ekonomi terbesar kedua setelah DKI Jakarta, menyumbang 14,5 persen PDB nasional. Pertumbuhan Ekonomi Jatim berada di angka 5,22 persen, didukung oleh Investasi dan permintaan rumah tangga.

“Mengingat besarnya ekonomi Jawa Timur, dampaknya sangat luar biasa, terutama dalam menjembatani Indonesia bagian timur,” ungkap Ibrahim.

Tantangan utama Investasi dan Ekspor

• Target Investasi: BI menekankan pentingnya menjaga pangsa Investasi di Jatim di atas 30 persen untuk menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan.

• Ekspor Melambat : Meskipun ekspor Jatim masih mencatat pertumbuhan double digit, terjadi perlambatan. Komoditas Ekspor utama yang signifikan peningkatannya adalah Emas, dipengaruhi oleh kenaikan harga global.

• Peningkatan Impor: Peningkatan impor barang modal, mesin, dan kendaraan mengindikasikan bahwa proses industrialisasi dan faktorisasi masih berjalan, yang merupakan sinyal positif bagi iklim usaha.

Ibrahim memastikan bahwa inflasi di Jatim tetap terjaga dan lebih rendah dari Inflasi Nasional, yakni 2,69 persen berbanding 2,86 persen. Angka ini masih berada dalam koridor target BI.

Namun, BI memproyeksikan adanya tekanan Inflasi menjelang akhir tahun, khususnya pada November dan Desember, karena lonjakan permintaan masyarakat sehubungan dengan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

Komoditas Penyumbang Inflasi Akhir Tahun (Berdasarkan Data Historis):

• Telur Ayam: Naik 11 kali dalam 12 pengamatan akhir tahun (selama 6 tahun).
• Minyak Goreng
• Angkutan Udara
•Beras dan Cabai Rawit

“Kami perkirakan inflasi di dua bulan terakhir akan bertambah sekitar 0,7 persen, namun totalnya masih aman, sekitar 2,6 persen atau 2,7 persen,” terang Ibrahim.

Untuk menjaga stabilitas harga, Ibrahim menegaskan perlunya sinergi dalam kerangka Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).

Untuk tahun 2025, BI memandang pertumbuhan ekonomi Jatim masih akan solid, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi, dengan perkiraan di kisaran 4,5 perden hingga 5,7 perden. Sementara itu, target Inflasi Nasional hingga 2026 ditetapkan pada 2,5 persen plus minus 1 persen. (dji)

Related Articles

Back to top button