Gandeng POTADS, RS Kemenkes Surabaya Perkuat Layanan Medis dan Edukasi Penyandang Down Syndrome
SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Rumah Sakit (RS) Kemenkes Surabaya resmi menjalin kerja sama strategis dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Jawa Timur.
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berfokus pada peningkatan layanan medis komprehensif serta edukasi kesehatan bagi para orang tua penyandang Down Syndrome.
Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya, Martha Muliana Lumogom Siahaan, S.H., MARS, M.H.Kes., menyampaikan, langkah ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam merangkul kelompok rentan.
Bertepatan dengan momen Hari Down Syndrome Sedunia yang mengusung tema “Bersama Melawan Kesepian”, pihak rumah sakit berkomitmen untuk menjadi sahabat bagi para penyandang.
“Anak-anak penyandang Down Syndrome memiliki keunikan luar biasa; mereka selalu ceria, terbuka, dan tulus. Kami tidak ingin mereka merasa sendirian. RS Kemenkes Surabaya hadir untuk memastikan mereka mendapatkan hak kesehatan yang optimal,” kata Martha dalam acara Konferensi Pers,Sabtu, 11 April 2026.
Ditempat yang sama, Suwahyu selaku Bidang Kemitraan dan Pengembangan Organisasi POTADS Jawa Timur, menjelaskan, kerja sama ini sangat krusial mengingat penyandang Down Syndrome sering kali lahir dengan komorbiditas atau penyakit bawaan, seperti kelainan jantung dan gangguan fungsi lainnya.
“Kebutuhan layanan kesehatan bagi mereka bersifat seumur hidup, mulai dari penanganan medis saat lahir hingga berbagai terapi pendukung seperti terapi bicara. Meskipun sebagian besar dijamin BPJS Kesehatan, masih ada beberapa kasus spesifik yang memerlukan perhatian khusus,” ungkapnya.
Selain layanan fisik, kerja sama ini juga mencakup aspek edukasi kesehatan mental bagi orang tua.
Menurut Suwahyu, tantangan terbesar saat ini adalah memberikan pemahaman yang benar kepada keluarga agar mereka mampu mendampingi tumbuh kembang anak secara tepat.
Berdasarkan data POTADS, saat ini terdapat sekitar 400 anak penyandang Down Syndrome yang terdata di Jawa Timur. Namun, Suwahyu menyayangkan masih banyak orang tua, bahkan di kota besar seperti Surabaya, yang cenderung menutup diri dan menyembunyikan keberadaan anak mereka.
“Masih banyak masyarakat yang percaya pada mitos atau takhayul yang tidak benar mengenai kondisi ini. Melalui edukasi dan keterbukaan medis, kami ingin mematahkan stigma tersebut. Kami mendorong para orang tua untuk lebih terbuka karena penanganan yang cepat dan tepat sangat menentukan kualitas hidup anak-anak ini,” tandasnya.
RS Kemenkes Surabaya menegaskan bahwa fokus rumah sakit saat ini tidak hanya terbatas pada penyakit katastropik seperti kanker, jantung, dan stroke, tetapi juga memberikan prioritas tinggi pada pelayanan kelompok rentan melalui unit khusus yang dipimpin oleh jajaran direksi terkait.




