PT TPS Serap Emisi Setara 200 Truk Lewat Konservasi Mangrove dan Elektrifikasi Alat
SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mencatatkan kemampuan penyerapan emisi karbon sebesar 623,11 ton karbon per hektare atau setara 2.286,8 ton CO? per hektare dari kawasan konservasi mangrove yang dikelolanya.
Angka penyerapan ini sebanding dengan emisi yang dihasilkan oleh 180 hingga 200 unit truk pengangkut internal yang beroperasi setiap hari.
Capaian ekologis tersebut merupakan hasil pengukuran TPS bersama Cempaka Foundation sepanjang tahun 2026.
Selain menjadi penyerap karbon alami (carbon sink), kawasan mangrove TPS mencatatkan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi serta kondisi vegetasi yang padat, sekaligus menjadi habitat berbagai spesies flora, fauna, dan burung migran yang dilindungi.
Upaya dekarbonisasi ini diperkuat dengan budidaya 15.000 bibit mangrove baru diarea konservasi TPS pada tahun 2026.
Dalam program ini, anak usaha Pelindo Group tersebut bermitra dengan Kelompok Petani Mangrove Penggerak Konservasi Mandiri Lestari Sontoh Laut Surabaya.
Bibit-bibit tersebut dijadwalkan menjalani masa pembibitan selama delapan bulan sebelum didistribusikan dan ditanam di berbagai titik pesisir Surabaya guna menahan abrasi serta banjir rob.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, mengatakan, strategi dekarbonisasi perusahaan mengombinasikan pemulihan ekosistem pesisir dengan modernisasi operasional terminal.
“Upaya elektrifikasi alat bongkar muat serta konservasi mangrove merupakan strategi yang saling mendukung dalam upaya pengurangan emisi karbon. Program pembibitan 15.000 mangrove ini adalah investasi lingkungan dan sosial yang manfaatnya dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Erika dalam keterangan resminya, Senin, 12 Oktober 2026.
Di sisi operasional, TPS mengonversi bahan bakar fosil pada peralatan bongkar muat utama menjadi energi listrik secara bertahap. Transformasi ini dilakukan untuk menekan emisi pembuangan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional kepelabuhanan.
Selain dampak ekologis, program konservasi mangrove yang diinisiasi sejak 2010 ini mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi warga lokal.
“Masyarakat pesisir dilibatkan secara langsung mulai dari proses pengadaan bibit, pemeliharaan, pembesaran, hingga penanaman, sehingga menjadi sumber pendapatan alternatif bagi warga sekitar,” pungkas Erika. (dji)




