TPS Dorong Ekonomi Hijau, 10.000 Bibit Mangrove Jadi Sumber Pendapatan Nelayan Surabaya

SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), anak usaha Pelindo Terminal Petikemas, memperkuat komitmen keberlanjutan melalui program pembibitan 10.000 pohon mangrove jenis Rhizophora mucronata.
Program bertajuk “Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan” tersebut tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga menjadi solusi ekonomi bagi nelayan di tengah ketidakpastian cuaca.
Berkolaborasi dengan Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari, TPS mengintegrasikan upaya restorasi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan warga pesisir.
Program ini memberikan lapangan kerja baru melalui seluruh tahapan produksi, mulai dari pengumpulan propagul hingga perawatan bibit di persemaian.
Bagi nelayan tradisional, program pembibitan ini menjadi bantalan ekonomi yang krusial. Moch. Toha, salah satu anggota kelompok tani, mengaku sangat terbantu dengan adanya penghasilan tetap dari aktivitas pembibitan saat ia tidak bisa melaut akibat cuaca buruk.
“Kalau melaut tidak selalu bisa setiap hari. Dengan pembibitan mangrove, kami tetap punya penghasilan untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari,” kata Toha.
Senada dengan Toha, Ketua Kelompok Kompak Mandiri Lestari, Shodiq Machfudz, mengungkapkan keterlibatan masyarakat sebagai mitra utama telah menumbuhkan kemandirian ekonomi berbasis kearifan lokal.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi mengatakan, indikator keberhasilan program ini diukur dari dua sisi: pemulihan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. TPS memberikan pendampingan teknis secara profesional untuk memastikan bibit yang dihasilkan memenuhi standar kualitas tinggi.
“Keberlanjutan sejati adalah ketika lingkungan pulih dan masyarakatnya sejahtera. Kami ingin petani memiliki keterampilan yang meningkat dan masa depan yang lebih pasti melalui ekonomi hijau,” ungkap Erika dalam keterangan.siaran resminya, Kamis malam, 8 Januari 2026.
Menurut Erika, program yang diinisiasi TPS ini menargetkan distribusi 10.000 bibit yang diproyeksikan siap tanam pada April 2026.
Selain itu, masih kata Erika, dari distribusi tersebut fokus wilayah yang akan di rehabilitasi adalah kawasan pesisir Surabaya dan wilayah sekitarnya yang terdampak abrasi.
Ia juga menyebutkan bahwa peran nasyarakat seperti para petani lokal akan diposisikan sebagai mitra utama dalam rantai nilai restorasi pesisir.
Selain berfungsi sebagai penyerap karbon biru (blue carbon), hutan mangrove ini diharapkan menjadi benteng alami Surabaya terhadap ancaman kenaikan permukaan air laut.
“Melalui langkah ini, TPS berupaya menciptakan ekosistem pesisir yang tangguh sekaligus membangun martabat ekonomi masyarakat setempat,” pungkas Erika. (dji)




