Investor Domestik Kuasai 61 Persen Saham BEI, Pasar Modal RI Kian Tangguh Hadapi Gejolak Global
SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan tinggi di tengah ketidakpastian keuangan global.
Saat ini,.dominasi investor domestik menjadi penopang utama stabilitas pasar, dengan menguasai 61% kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, porsi kepemilikan tersebut terdiri dari investor institusi domestik sebesar 43,3% dan investor ritel sebesar 17,7%.
Sementara itu, porsi kepemilikan investor asing berada di angka 39,1%. Dari sisi transaksi, investor domestik bahkan berkontribusi hingga 65,5% terhadap total nilai perdagangan di bursa.
Pertumbuhan jumlah investor juga mencatatkan tren positif. Hingga akhir Juni 2026, total investor pasar modal Indonesia menembus 28,9 juta Single Investor Identification (SID).
Khusus untuk investor saham dan surat berharga lainnya, jumlahnya mencapai 9,9 juta SID, atau melonjak 15,1% dibandingkan akhir tahun 2025 yang tercatat sebanyak 8,6 juta SID.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan, kombinasi antara fundamental ekonomi yang solid, resiliensi kinerja emiten, dan penguatan basis investor domestik membuat pasar modal Indonesia tetap kokoh.
“Kondisi pasar saat ini perlu dipandang secara menyeluruh dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional dan kinerja perusahaan tercatat. Kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi jangka panjang yang menarik bagi investor domestik maupun global,” kata Jeffrey melalui keterangan resminya, Jumat lalu, 10 Juli 2026.
Ketahanan pasar ini juga didukung oleh kinerja makroekonomi kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61%.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah yang terjaga, serta ekspansi aktivitas manufaktur dan surplus neraca perdagangan.
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat beberapa kali mengalami koreksi sepanjang tahun 2026, penurunan ini dinilai justru membuat valuasi saham di Indonesia menjadi lebih kompetitif.
“Per 8 Juni 2026, IHSG diperdagangkan dengan Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali, dan sebanyak 434 saham tercatat memiliki Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali. Kondisi ini membuka peluang bagi investor jangka panjang yang berbasis analisis fundamental,” ujar Jeffrey.
Secara kinerja korporasi, dari 810 perusahaan tercatat yang telah menyampaikan laporan keuangan per 31 Stret 2026, sebanyak 595 emiten (73,46%) berhasil membukukan laba bersih.
Selain itu, terdapat 221 perusahaan yang membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sepanjang tahun ini.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan dan meningkatkan kepercayaan pasar, BEI bersama SRO (Self-Regulatory Organizations) lainnya dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mempercepat reformasi transparansi sepanjang tahun 2026.
“Beberapa kebijakan strategis yang telah diimplementasikan meliputi publikasi data kepemilikan saham di atas 1%, peningkatan batas minimum free float menjadi 15%, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, hingga penerapan mekanisme High Shareholding Concentration (HSC) guna mengantisipasi konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi,” ungkap Jeffrey. (dji)




