Pangkas Biaya Logistik 14,29% PDB, Pererintah Genjot Integrasi Multimoda di TPS Surabaya
SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bergerak cepat memperkuat konektivitas logistik nasional demi menggenjot daya saing perdagangan global.
Langkah strategis ini direalisasikan melalui kunjungan lapangan dan rapat koordinasi intensif yang dipimpin oleh Asisten Deputi Pengembangan BUMN Bidang Infrastruktur dan Logistik di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Kamis (2/7).
Agenda utama tersebut difokuskan pada evaluasi mendalam terhadap perkembangan layanan integrasi logistik multimoda internasional serta optimalisasi layanan transhipment di Pelabuhan Tanjung Perak.
Sinergi ini diproyeksikan mampu memotong rantai pasok yang tidak efisien sekaligus memperkokoh kolaborasi lintas sektoral antara kementerian, BUMN, pelaku usaha, hingga asosiasi logistik papan atas nasional.
Pertemuan krusial ini dihadiri oleh jajaran pemangku kepentingan utama, mulai dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Pelindo Regional 3, hingga Pelindo Terminal Peti Kemas (Pelindo TPK). Dari lini operator transportasi dan pelaku usaha, turut hadir KAI Logistik bersama aliansi strategis seperti GPEI, ALFI, GINSI, PPLI (Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesia), serta raksasa pelayaran internasional, CMA CGM.
Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan langsung konektivitas jalur kereta api (KA) logistik yang terintegrasi penuh hingga ke dalam area pelabuhan.
Langkah ini krusial untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan teknis operasional multimoda yang menghubungkan kawasan-kawasan industri utama di Pulau Jawa langsung menuju jaringan pelayaran internasional.
Asisten Deputi Pengembangan BUMN Bidang Infrastruktur dan Logistik Kemenko Perekonomian, Yuli Sri Wilanti, mengatakan, pengembangan layanan logistik multimoda merupakan langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global.
“Pemerintah terus mendorong terwujudnya ekosistem logistik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Integrasi layanan kereta api dengan pelabuhan dan jaringan pelayaran internasional menjadi solusi konkret untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat arus barang, serta memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” kata Yuli Sri Wilanti dalam keterangan resminya, Jumat lalu.
Secara khusus, forum ini membedah performa koridor logistik strategis Jakarta–Semarang–Surabaya yang mengintegrasikan moda KA dan kapal laut. Jalur ini menghubungkan Stasiun Jakarta Gudang, Semarang Tawang, dan Surabaya Benteng dengan tiga terminal petikemas utama di Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak. Integrasi ini menghasilkan moda pengiriman barang ekspor-impor yang jauh lebih hemat, andal, dan berkelanjutan.
Dalam ekosistem ini, TPS memegang peran sangat vital sebagai simpul utama (hub). Melalui jalur rel yang terhubung langsung ke Stasiun Surabaya Benteng, TPS berfungsi sebagai titik konsolidasi kargo ekspor dan episentrum distribusi kargo impor, menghubungkan daerah belakang (hinterland) industri dengan pasar dunia.
Langkah integrasi ini menjadi bagian dari target besar pemerintah untuk menurunkan biaya logistik nasional yang saat ini masih berada pada kisaran 14,29 persen terhadap Produk Domestik Buto (PDB).
Selain konektivitas KA, agenda besar yang ditekankan adalah akselerasi kapasitas transhipment di pelabuhan milik Pelindo, khususnya Tanjung Perak. Pemerintah menilai penguatan kapasitas ini mendesak guna menahan arus petikemas internasional agar dikonsolidasikan di dalam negeri, bukan di pelabuhan negara tetangga.
“Dengan meningkatnya kemampuan transhipment di pelabuhan nasional, semakin banyak arus petikemas internasional yang dapat dikonsolidasikan di dalam negeri. Hal ini akan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional sekaligus membuka peluang pertumbuhan usaha dan investasi di sektor logistik,” tambah Yuli.
Meski demikian, forum mencatat ada sejumlah isu strategis yang memerlukan tindak lanjut bersama, antara lain, peningkatan daya saing tarif angkutan kereta api logistik, Harmonisasi kebijakan fiskal guna mendukung fleksibilitas layanan multimoda.
Selain itu, optimalisasi fisik jalur rel menuju terminal petikemas, dan penguatan infrastruktur pada koridor logistik strategis nasional.
Merespons arahan pusat, Direktur Utama TPS, Wahyu Widodo, menambahkan, komitmen penuh perusahaan untuk mengeksekusi cetak biru (blueprint) pemerintah tersebut. TPS terus melakukan peningkatan kapasitas internal secara masif guna mendukung integrasi multimoda dan layanan transhipment yang kompetitif.
“Kami berkomitmen penuh mendukung layanan multimoda internasional ini melalui kepastian tersedianya jalur rel KA logistik tepat di dalam area kerja terbatas TPS. Efisiensi operasional juga terus kami genjot melalui peremajaan alat-alat bongkar muat utama serta program elektrifikasi,” ungkap Wahyu.
Melalui langkah modernisasi dan kolaborasi erat ini, TPS optimistis mampu memperkuat peran Pelabuhan Tanjung Perak sebagai gerbang utama perdagangan internasional sekaligus pusat (hub) logistik utama untuk wilayah Indonesia bagian timur yang berkelanjutan. (dji)



