Jember Berhasil Tekan Stunting 16,05 Persen, Program PEGAS Jadi Model Intervensi Nasional

SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Pemerintah Kabupaten Jember menorehkan capaian gemilang dalam upaya akselerasi penurunan angka stunting melalui Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS).
Dalam kurun waktu tiga bulan, program kolaboratif ini sukses menurunkan angka stunting sebesar 16,05 persen dari total balita peserta.
Berdasarkan data evaluasi akhir, sebanyak 74,07 persen balita mengalami peningkatan status gizi secara signifikan.
Sementara itu, 9,9 persen balita sisanya dilaporkan menunjukkan progres positif namun tetap membutuhkan pendampingan lanjutan untuk mencapai standar gizi optimal.
Program yang digagas sejak Agustus 2025 ini melibatkan 18 Puskesmas di seluruh wilayah Jember. Sasaran utamanya adalah balita usia 0–57 bulan yang terdeteksi stunting tanpa komorbiditas atau infeksi kronis.
Terobosan utama PEGAS terletak pada pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) secara gratis yang didukung oleh pendampingan klinis dari tiga Dokter Spesialis Anak (DSA), yakni dr. Nurul Ima Suciwiyati, Sp.A (RSD dr. Soebandi), dr. Natalia Kristianti Nugraheni, Sp.A (RSD Balung), dan dr. Mega Nur Purbo, Sp.A (RSD Kalisat)
PKMK yang digunakan merupakan produk unggulan sesuai standar PerBPOM No. 24 Tahun 2020 dengan densitas energi 1,01 kkal/ml dan Protein Energy Ratio (PER) sebesar 10,4 persen.
Inovasi ini telah teruji secara klinis mampu meningkatkan berat dan tinggi badan anak secara efektif.
Tak hanya mengandalkan asupan gizi, PEGAS memanfaatkan teknologi telemedicine untuk memantau perkembangan balita setiap dua minggu.
Metode ini memungkinkan tenaga kesehatan di Puskesmas berkonsultasi langsung secara daring dengan dokter spesialis guna menentukan dosis dan strategi intervensi yang presisi.
Menariknya, program ini menerapkan strategi penyajian makanan yang adaptif untuk mencegah kebosanan pada anak. PKMK diolah menjadi berbagai variasi menarik seperti puding, es lilin, hingga cendol guna meningkatkan kepatuhan konsumsi.
“Stunting adalah permasalahan multidimensional. Penanganannya tidak bisa hanya fokus pada gizi, tapi harus mencakup aspek kesehatan dan sosial-ekonomi melalui deteksi dini sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” kata dr. Nurul Ima Suciwiyati dalam keterangan resminya, Senin 2 Januari 2026.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Rachman Hidayat, S.Sos, memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan ini pada sesi penutupan program, Selasa (16/12/2025).
Ia menegaskan bahwa hasil ini merupakan bukti nyata efektivitas intervensi yang terstruktur dan kolaboratif.
“Capaian ini sejalan dengan RPJMN 2025–2029. Kami membuktikan bahwa dengan intervensi yang tepat sasaran pdan berkelanjutan, perbaikan status gizi bukan hal yang mustahil,” ungkap Rachman.
Keberhasilan Program PEGAS ini diproyeksikan menjadi kado bagi peringatan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari mendatang, sekaligus menjadi role model bagi daerah lain di Indonesia dalam upaya kolektif mewujudkan generasi bebas stunting. (dji)




