Umum

Solo Safari: Dari Ikon Lama Menjadi Destinasi Wisata Keluarga Modern

SOLO : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang telah lama menjadi ikon Kota Solo kini bangkit kembali dengan wajah baru.

Berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta dan Taman Safari Indonesia, TSTJ bertransformasi menjadi Solo Safari, sebuah destinasi wisata modern, edukatif, dan ramah keluarga.

“Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan sebuah metamorfosis yang membawa dampak signifikan bagi pariwisata Solo,” kata Alexander Zulkarnain, Chief Marketing Officer (CMO) Taman Safari Indonesia, Minggu 31 Agustus 2025.

Menurutnya, Buku Statistik Pariwisata Jawa Tengah 2023, Solo Safari mencatat kenaikan pendapatan hingga 300% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia mengungkapkan, antusiasme pengunjung pun melonjak drastis, dengan lebih dari 500 ribu wisatawan datang dalam 10 bulan pertama dan diproyeksikan menembus hampir 600 ribu pengunjung sepanjang 2023.

Lebih dari Sekadar Kebun Binatang Biasa
Solo Safari menawarkan pengalaman yang lebih komprehensif bagi pengunjung. Tidak hanya menampilkan keanekaragaman satwa, destinasi ini juga menyediakan zona edukasi, area rekreasi keluarga, dan kuliner tematik.

“Pengunjung dapat belajar tentang satwa sambil berinteraksi dalam lingkungan yang nyaman dan modern,” ujar Alexander.

Alexander juga mengungkapkan bahwa Solo Safari telah menjadi destinasi favorit, terutama selama musim liburan sekolah dan hari besar nasional.

Kehadiran Solo Safari memperkuat posisi Solo sebagai pusat pariwata keluarga di Jawa Tengah.

“Jika sebelumnya Solo dikenal dengan wisata budaya, sejarah, dan kulinernya, kini kota ini memiliki daya tarik tambahan yang selaras dengan tren rekreasi masa kini,” terangnya.

Lonjakan kunjungan ke Solo Safari tidak hanya menguntungkan sektor pariwisata, tetapi juga menggerakkan sektor ekonomi lain.

Alexander menyebutkan, fenomena tersebut  turut mendorong pertumbuhan sektor perhotelan, transportasi, hingga UMKM lokal. Wisatawan cenderung memperpanjang masa tinggal mereka untuk menikmati keindahan batik, kekayaan kuliner, serta pertunjukan budaya yang ada di Solo.

Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, puncak kunjungan Solo Safari terjadi saat libur Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, dengan jumlah wisatawan melonjak 3 hingga 5 kali lipat dibandingkan hari biasa. Fakta ini membuktikan bahwa Solo Safari telah menjadi magnet utama bagi wisatawan, sekaligus memperpanjang lama tinggal mereka di kota ini.

“Solo Safari berhasil membuktikan bahwa inovasi dan kolaborasi mampu menghidupkan kembali ikon lama menjadi kebanggaan baru. Ini tidak hanya menambah daya tarik, tetapi juga menggerakkan ekonomi dan memperkuat branding Kota Solo sebagai tujuan wisata berkelas,” tutup Alexander. (dji)

Related Articles

Back to top button