Ekbis

BI Jatim : Pengembangan Tanaman Porang dari Hulu sampai Hilir memiliki Potensi Peluang Bisnis besar

 

SURABAYA : ( KABARAKTUALITA.COM ) – Siapa sangka tanaman Porang yang dulu hanya tanaman liar, kini tanaman Porang tersebut memiliki nilai jual yang tinggi.

Dipaparkan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Harmanta, bahwa Potensi porang memang sangat besar melihat kebutuhan dan manfaatnya pada beberapa Industri.
Harmanta mengungkapkan, bahwa Umbi porang ini banyak mengandung glucomannan yang berbentuk tepung.

” Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental,” katanya pada acara Ngobrol Online Inspiratif ( NGOPI ) bersama awak media. Rabu ( 17/3/2021 ).

Menurut Harmanta, tanaman Porang tersebut juga dapat digunakan sebagai bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.

” Pengembangan porang dari hulu sampai hilir juga memiliki peluang yang besar. Pengolahan Porang dari mulai Umbi, Chip porang sampai dengan produk akhir memiliki added value yang besar, sehingga memiliki potensi nilai ekonomis yang besar dan mampu masuk ke pasar global,” ujar Harmanta.

Kepala Desa Klangon, Didik Kuswandani mengungkapkan, bahwa sejak jaman dahulu, mata pencaharian utama masyarakat Desa Klangon adalah berkebun di Lahan Perhutani dan masuk dalam Impres Desa tertinggal.
Salah satu tanaman yang menjadi komoditas tanam pada lahan hutan tersebut adalah berbagai macam tanaman seperti rempah-rempah sampai dengan tanaman Porang. Dari berbagai macam tahaman tersebut tahun 1985 dibentuk kerjasama antara Desa Klangon dengan Perhutani untuk pengembangan tanaman Porang, namun saat itu harga porang masih rendah yakni sebesar Rp 100, per kg. Tapi dengan Kerjasama dibentuklah Demplot percontohan Budidaya tanaman porang. Berawal dari hal tersebut masyarakat Klangon mulai menanam porang pada lahan-lahan yang dapat dimanfaatkan, sehingga hampir 100% warga Klangon saat ini telah menanam dan membudidayakan porang.

Didik berharap, dengan Budidaya tanaman Porang inii ke depan dapat menambah nilai tambah dan mampu mengkolaborasikan tanaman porang dengan tanaman lainnya dengan Sistem Irigasi melalui mata air pegunungan.

” Selain itu, melalui Pemerintah Daerah tanaman Porang ini bisa harapkan diadopsi dan dapat dikembangkan di Daerah lain,” terangnya.

Sementara Paidi selau Petani Porang menjelaskan,tanaman Porang dianggap hanya bisa tumbuh pada wilayah hutan di lereng gunung. Namun di tahun 2010 dikembangkan pola rekayasa tanam tanaman Porang pada lahan perkebunan lainnya, seperti contoh pada naungan tanaman Singkong dengan modal seminimal mungkin.

” Melalui rekayasa tanam tanaman Porang dengan lahan Perkebunan atau lahan pertanian didapatkan satu umbi porang ( katak ) dan menghasilkan 7 bulbil tanaman porang.

Bahkan menurut Paidi, saat ini telah dibuka laboratorium terbuka untuk pembelajaran rekayasa tanam budidaya porang yang dapat dipelajari oleh masyarakat luas.

Dr. Doddyk Pranowo, STT., M.Si, selaku Akademisi Universitas Brawijaya, Menurutnya, peluang bisnis berbahan baku porang yang telah memiliki potensi besar saat ini banyak menjadi produk olahan makanan seperti Mie shirataki, Beras Konyaku, Mie Shirataki instant, Pasta Porang, Konyaku, Boba dan turunan makanan lainnya yang dapat digolongkan sebagai Healthy Food.

Selain itu, Lanjut Doddyk Pranowo, Produk Turunan Porang juga dapat diolah sebagai bahan baku produk kecantikan seperti Butiran Pembersih Wajah, Spons Pembersih Wajah, Supplement Siet, Pengental Alami, Pembersih Wajah. Namun, sebelum menjadi Produk Olahan akhir, Umbi Porang terlebih dahulu diolah menjadi Chips yang dikeringkan melalui pengeringan oven atau dikeringkan secara manual (penjemuran matahari). Setelah menjadi Chips yang kering, Umbi Porang diolah menjadi tepung Porang sampai dengan Ekstrak Glukomannan.

Ia menambahkan, Ekspor porang di tahun 2019 hingga 2020 sebesar 20,5 Juta Kg Chips atau setara dengan 136 Juta Kg Porang Basah.

” Jika dirata-ratakan kembali Produktivitas lahan Porang adalah sebesar 70 ton Per Haktar .Dengan potensi Porang yang cukup besar terutama di pasar Global,” katanya.

Ia meminta pada pasar dalam negeri untuk  mendukung serta diperkuat dalam menyerap Produk hasil pengolahan Porang, ditengah tantangan branding Produk porang yang cenderung masuk ke Produk kelas menengah ke atas.

” Ke depan, diharapkan adanya dukungan inovasi dalam mempopulerkan produk olahan porang menjadi fokus pengembangan pasar porang dalam negeri, sehingga tanaman porang tidak hanya dinikmati oleh pasar luar negeri namun juga dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.          ( Dji ).

Related Articles

Back to top button